Beranda Sumatera Utara Medan Kepala MAN 1 Medan Bantah Minta Uang Pelicin Rp 11 Juta ke...

Kepala MAN 1 Medan Bantah Minta Uang Pelicin Rp 11 Juta ke Peserta PPDB

BAGIKAN
Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan, Ali Masran Daulay saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (28/6/2016). Ali membantah pihaknya mematok uang pelicin Rp 11 juta untuk membuka kelas tambahan.

Medan, SiantarKotaNews – Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan, Ali Masran Daulay membantah bahwa pihaknya mempersyaratkan uang “pelicin” senilai Rp 11 juta kepada para peserta Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2016/2017 yang tidak lulus seleksi agar tetap dapat diterima.

Menurut dia, besaran kutipan uang tersebut telah disepakati oleh para orangtua yang ingin anaknya tetap bersekolah di MAN 1 Medan, setelah dinyatakan tidak lulus seleksi. Uang tersebut, kata dia, dibuat sebagai uang pembangunan ruang kelas tambahan.

“Itu adalah berita yang tidak benar. Setelah pengumuman, orangtua minta supaya dibuka kelas tambahan. Mereka ngotot anaknya harus masuk ke MAN 1. Sudah saya bilang ke mereka, itu gak boleh. Tapi mereka tetap ngotot,” ujarnya, saat ditemui di ruangannya di MAN 1 Medan, Jalan Williem Iskandar, Selasa (28/6/2016).

Dikatakan Ali, karena banyak orangtua siswa yang ngotot, pihak komite MAN 1 kemudian mengakomodir permintaan mereka hingga disepakati untuk membangun dua kelas tambahan.

“Jadi itu (Rp 11 juta) hasil kesepakatan mereka dengan komite, bukan saya yang mematok,” katanya.

Ali juga membantah pihaknya mematok uang Rp 6 juta untuk seragam dan buku ajar kepada para siswa yang dinyatakan lulus.

“Itu kan kebijakan koperasi sekolah. Namanya berjualan. Tapi begitupun itu gak diwajibkan. Mau beli di sini boleh, beli di luar juga boleh. Kalaupun ada yang minta Rp 6 juta, itu oknum itu. Kami gak ada,” ujarnya.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan di Jalan Williem Iskandar No. 7B.

Ali memaparkan MAN 1 menerima 365 siswa dalam PPDB tahun ini. 60 di antaranya diterima melalui jalur undangan.

“Per kelas maksimal 40, minimal 32. Kami ada 9 ruangan. Kalau misalnya yang dua tambahan ini jadi dibuka, jadi 11 ruangan,” katanya.

Atas adanya pemberitaan ini, Ali pun mengaku akan mempertimbangkan kembali penambahan kelas. Ia mengaku tak ingin MAN 1 dipandang buruk di kemudian hari.

“Saya akan minta petunjuk dari Kanwil Kemenag Agama atau Kabid Pak Soritua Harahap dululah, apakah boleh penambahan kelas. Kalau gak boleh ya udah. Kita pun gak mau ribut. Dibuka pun kalau dipublikasikan kayak gini ya enggak maulah saya,” ujarnya.

Sebelumnya, Zulkarnain, orangtua dari Nurul Fadillah, seorang peserta yang tidak lulus pada pengumuman hasil ujian 22 Juni lalu, mengungkapkan bahwa ada kecurangan dalam PPDB di MAN 1 Medan.

Dikatakannya, sejak awal, putrinya memiliki nilai Ujian Nasional yang cukup baik, yakni 33,34.

Sementara indikator penilaian yang dibuat oleh MAN 1 Medan, yakni 40 persen nilai UN, 40 persen nilai tes akademik (tes tertulis), dan 20 persen tes baca Al-Quran dan praktik ibadah.

“Anak saya itu pintar. Rangking selalu dia selama SMP. Baca Quran pun bisa. Kawannya dia, NEM-nya (Nilai Ebtanas Murni, sekarang Nilai Ujian Nasional) padahal lebih rendah dari anak saya, tapi bisa lulus. Saya gak ngerti kenapa bisa begitu. Saya minta penjelasan mereka gak peduli. Itu yang bikin saya kesal,” katanya, di Kantor Ombudsman RI Perwakilan Sumut, Jalan Majapahit, kemarin.(amr/tribun-medan)

Jangan Baca Sendiri, Ayo Bagikan:
loading...
Loading...